Menyaingi al-Qur’an, Menantang Tuhan

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 22)
Satu hari, Ubaid bin Umar bertemu Siti Aisyah. Saat berjumpa ia berkata, ”Ceritakanlah kepadaku sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada diri Rasulullah.”
Dengan pelan istri Nabi itu berkisah, “Suatu malam, Nabi menemuiku. Kami berbaring di tempat tidur hingga tubuh kami bersentuhan menjadi satu. Setelah beberapa saat kemudian, Nabi berkata, “Wahai putri Abu Bakar, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada Tuhanku!”
Aku pun menjawab, “Aku senang berdekatan denganmu, tapi aku mengizinkanmu melakukan itu.”
Kemudian Nabi bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudhu dengan mencucurkan banyak air, lalu shalat. Nabi mulai menangis hingga air matanya membasahi dada, kemudian ruku’ dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus-menerus Nabi dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil Nabi untuk shalat Shubuh.
Aku bertanya kepadanya di kala pagi, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik yang dulu maupun yang akan datang?’
Nabi menjawab, “Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menciptakan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi ini.”

Pelajaran Syukur

Sebagai makhluk mulia, Nabi telah memberikan teladan kepada kita. Begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan, namun begitu sedikit kita bersyukur atas nikmat itu. Padahal, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 22)
Ayat ini sepatutnya menjadi renungan. Allah telah menciptakan langit, bumi, kemudian menurunkan air hujan, dan dari situ muncul kehidupan di muka bumi. Tanaman lalu tumbuh dan berbuah. Manusia kemudian menikmatinya untuk keperluan sehari-hari. Kebesaran nikmat bumi juga akan tampak kalau kita perhatikan ciri gravitasinya yang menjamin kita untuk tinggal, membangun, bercocok tanam, bekerja, dan sebagainya di atas muka bumi.
Jika gaya gravitasi ini hilang, walaupun sebentar, maka segala yang ada di atas bumi seperti manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan, akan beterbangan di ruang angkasa. Benda langit yang tak terhitung jumlahnya bergerak teratur secara sempurna tanpa saling bertubrukan karena Allah menempatkannya di orbit masing-masing dengan tepat.
Orbit adalah lintasan sebuah planet atau komet ketika berevolusi terhadap matahari. Tak satu pun planet yang berhenti mengikuti lintasan ini kecuali hilang di angkasa raya. Semua ini karena adanya gaya gravitasi. Jika matahari mengurangi kekuatan gravitasinya, kita akan melayang-layang di angkasa bersama bumi. Hal ini akan mengakhiri keberadaan muka bumi.
Sehubungan dengan ini, Imam Ali bin al-Husain mengatakan dalam Kitab Nur as-Tsaqalain bahwa Allah menciptakan bumi sebagai hamparan sesuai dengan jasad manusia. Allah tidak menciptakan bumi dengan panas yang dapat membakar. Allah juga tidak menciptakan bumi dengan suhu dingin yang dapat membekukan tubuh. Semuanya diatur oleh Allah dengan begitu tepat.
Dalam ayat ini Allah juga menyinggung tentang nikmat langit. Kata as-sama` (langit) yang terdapat dalam al-Qur’an mengandung arti yang menunjukan ketinggian. Sementara itu, dalam ayat ini, kata as-sama` diiringi dengan kata binaa’a (atap) yang mengisyaratkan adanya atap di atas manusia di muka bumi.
Barangkali ungkapan al-Qur’an ini mengisyaratkan ketakjuban orang-orang yang memahami posisi bumi di angkasa dan bertanya-tanya ihwal di mana atapnya dan bagaimana bentuknya. Sekilas, hal ini seakan-akan membenarkan teori Ptolomeus yang menganggap alam ini berlapis-lapis dari beberapa planet yang saling bersusun antara satu dengan yang lainnya seperti kulit bawang.
Nashir Makarim as-Syirazi dalam Kitab Tafsir al-Amtsal menyebutkan bahwa ‘langit’ dalam ayat ini adalah atasnya bumi, dan salah satu arti langit adalah lapisan udara. Lapisan udara bumi adalah lapisan yang luas dan meliputi bola bumi yang jaraknya sampai ratusan kilometer. Lapisan udara itu, kata as-Syirazi, seperti atap bening yang meliputi bola bumi dari semua sisi, namun kekuatannya melebihi kekuatan baja.
Meskipun demikian, ia tidak menghalangi tembusnya sinar matahari ke bumi. Karena, tanpa atap itu bumi akan terus tertimpa pecahan-pecahan bintang dan komet yang bertaburan. Maka, tidak akan ada ketenangan bagi manusia dan tidak akan ada kehidupan di muka bumi. Lapisan udara yang jaraknya ratusan kilometer ini bekerja untuk menghancurkan batu-batu langit yang bergerak menuju bumi. Jarang sekali batu-batu tersebut dapat menembus lapisan itu sehingga sampai ke bumi.
Salah satu bukti manfaat langit sebagai lapisan udara bumi dijelaskan Imam Ja’far ash-Shadiq dalam al-Mufadhdhal. Ia mengatakan, “Pikirkanlah tentang warna langit dan segala yang berada padanya dari keteraturan yang tepat. Sesungguhnya warna langit adalah warna yang sangat cocok untuk mata dan sangat menguatkannya.” Artinya, warna langit yang biru mengandung manfaat tersendiri bagi mata manusia. Ini cocok dengan kekuatan mata.

Sumber Kenikmatan

Kemudian, ayat ini juga menjelaskan tentang nikmat hujan, yaitu air yang menghidupkan bumi dan dari bumi keluarlah tanaman dan buah-buahan. Allah menurunkan air dari tempat tinggi agar air itu sampai ke puncak gunung, dataran yang tinggi dan lembah, kemudian Allah membaginya menjadi hujan rintik dan hujan lebat agar dapat diserap tanah.
Dari sini Allah kemudian mengeluarkan buah-buahan dari tanaman akibat air hujan yang turun. Karenanya, hal tersebut menjadi alasan bagi seorang hamba untuk kian bersyukur atas nikmat dan rahmat yang Allah berikan. Pendek kata, alam merupakan sumber kenikmatan untuk manusia. Sebab itu Allah berfirman, “Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
Dalam Tafsir Al-Aisar karya Abu Bakar Jabir Al-Jazairi disebutkan bahwa kata tsamarat (buah-buahan) adalah bentuk jamak dari kata tsamarah, yang artinya segala yang tumbuh dari bumi berupa biji-bijian, sayur-sayuran dan hasil dari pepohonan berupa buah-buahan. Semua yang tumbuh dari muka bumi disebut tsamarat. Itu artinya, apa yang dihasilkan dari turunnya air hujan ke muka bumi tidak sekedar buahan-buahan saja, melainkan juga semua jenis tanaman.
Atas dasar itulah, bersyukur atas nikmat Allah merupakan kewajiban seorang muslim. Tapi, sayangnya, seorang muslim kadang salah mengartikan bentuk syukur. Seorang muslim harus memahami bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukur dengan cara yang bertentangan dengan prinsip syukur itu sendiri.
Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukur dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat maksiat, bernyanyi hingga melupakan kewajiban, dan seterusnya. Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas bertentangan dengan prinsip Islam.
Untuk itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah dan meninggalkan maksiat. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam Ali Al-Shabuni.
Kata al-Junaid, seorang ulama sufi, “Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat. Ketika engkau menganggap bahwa engkau layak menerima kenikmatan dari Allah, maka itu tidak bisa dikatakan syukur. Syukur adalah jika orang tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya.”
Sedangkan asy-Syibli, yang tak lain adalah gurunya al-Junaidi, pernah berujar kepada para muridnya, “Bersyukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri. Syukur adalah kendali yang ada serta jerat bagi apa yang tiada.” Sebagaimana dalam hadits Qudsi, “Maka Aku menciptakan makhluk, dan Aku buat mereka mencintai-Ku melalui nikmat-Ku.” Dengan demikian, kata Ibnu Arabi, Allah menciptakan berbagai kenikmatan di muka bumi agar hamba-Nya menikmati wahana itu dengan melihat kenikmatan itu sendiri, sehingga mereka kian tumbuh rasa cintanya kepada Allah.
Dalam bagian akhir ayat ini Allah pun menjelaskan tentang larangan agar kita tidak berperilaku musyrik kepada-Nya. Ini adalah konsekwensi dari bentuk syukur itu sendiri. Menyekutukan Allah (syirik) tidak hanya dengan menjadikan patung yang terbuat dari batu dan kayu sebagai Tuhan. Namun, menyekutukan Allah mempunyai arti luas. Kata ‘andadan’ (sekutu-sekutu) adalah kesyirikan yang lebih tersembunyi seperti langkah semut di atas batu licin yang hitam di malam hari yang gelap. Bentuk kesyirikan ini sangat samar sekali.
Muhamad bin Ishak, seperti dikutip Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya, berpendapat bahwa kita janganlah menyekutukan Allah dengan mengadakan tandingan-tandingan yang tidak dapat memberikan manfaat, sedang kita mengetahui bahwa tiada Tuhan yang hak bagi kita selain Allah yang memberi rezeki. Kesyirikan seperti ini misalnya ungkapan, “Kalau saja tidak ada anjing, niscaya para pencuri datang tadi malam,” atau mengatakan kepada seseorang, “Semua atas kehendak Allah dan atas kehendakmu.” (Tito/berbagai sumber)
Title : Menyaingi al-Qur’an, Menantang Tuhan
Description : “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghas...

0 Response to "Menyaingi al-Qur’an, Menantang Tuhan"

Posting Komentar